1. Hari minggu sore, Andi dan
teman-teman berkumpul di rumah Rahmat. Mereka sudah lama tidak saling jumpa
setelah masing-masing melanjutkan studi di kota yang berbeda.
Andi : “jalan-jalan sore gini enak lho sambil incip-incip duren di Sekartaji."
Heru : “hmmmm..... apa enaknya? Enakan ke
Rental PS.”
Rohmat : “semua enak sebenarnya. Sayangnya,
aku tidak bisa ikut. Ibu lagi sakit dan ayah belum bisa pulang karena masih ada
lembur dikantor.”
Poniran : “sudah. Kita disini saja sambil
nemenin Rohmat.”
Analisis :
Dari
percakapan diatas, secara makna dan tujuan tuturan, tuturan yang disampaikan
oleh Andi, menurut konsep tindak tutur Austin & Searle masuk kedalam jenis
tindak tutur Ilokusi, yaitu sebuah tindak tutur yang menginginkan adanya suatu
tindakan dari petutur, dalam hal ini petuturnya adalah Heru, Rohmat, Poniran.
Di
dalam tuturan tersebut, Andi menyampaikan keinginannya untuk makan duren dan
berharap teman-temannya mau melakukan apa yang diinginkan Andi. Sebagai mana
yang terlihat di dalam potongan ucapan Andi sebagai berikut :
“jalan-jalan
sore gini enak lho sambil incip-incip
duren di Sekartaji."
Sedangkan
menurut konsep tindak tutur Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Andi,
masuk kedalam bentuk tindak tutur Direktif, yaitu sebuah tindak tutur yang
meminta/menyuruh petutur untuk melakukan sesuatu tindakan yang disampaikan
penutur. Andi menyampaikan keinginannya untuk makan duren dan berharap temannya
melakukannya. Sebagaimana terlihat dalam ucapannya berikut:
“jalan-jalan sore
gini enak lho sambil incip-incip
duren di Sekartaji."
Menurut konsep tindak
tutur Austin & Searle, tuturan yang disampaikan oleh Heru masuk kedalam
jenis tindak tutur Ilokusi, yaitu tuturan yang menyatakan sesuatu kepada
petutur untuk melakukan sesuatu. Dalam tuturan tersebut, heru mengajak
teman-temannya dan dirinya sendiri untuk pergi ke Rental PS dan berharap
teman-temannya mau menuruti ajakannya. Sebagaimana yang terlihat dalam potongan
ucapan heru sebagai berikut:
“hmmmm.....
apa enaknya? Enakan ke Rental PS.”
Sedangkan
menurut konsep Searle, tindak tutur heru termasuk ke dalam jenis Ekspresif,
yaitu sebuah tindak tutur yang dipakai untuk mengomentari. Heru dalam
percakapan tersebut mengomentari tuturan andi dan memberikan saran untuk pergi
ke rental PS saja. Sebagaimana kutipan berikut
“hmmmm.....
apa enaknya? Enakan ke Rental PS.”
Menurut klasifikasi Austin & Searle,
tuturan yang disampaikan oleh Rohmat masuk kedalam jenis Perlokusi yaitu sebuah
tindak tutur yang menginginkan adanya reaksi batin dari petutur. Didalam
tuturan tersebut Rohmat menyampaikan keluh kesahnya karena ibunya yang sedang
sakit dan ayahnya belum bisa pulang karena lembur di kantor sehingga Rohmat
tidak bisa ikut teman-temannya. Sebagaimana yang terlihat di dalam potongan
ucakap Rohmat berikut
“semua
enak sebenarnya. Sayangnya, aku tidak bisa ikut. Ibu lagi sakit dan ayah belum
bisa pulang karena masih ada lembur dikantor.”
Sedangkan menurut konsep Searle tindak tutur
Rohmat termasuk dalam jenis Deklaratif yaitu tuturan yang menyatakan kondisi
atau informasi terbaru. Rohmat menyatakan bahwa ibunya sedang sakit dan ayahnya
belum bisa pulang karena ada lembur di kantor. Sebagaimana kutipan berikut
“semua
enak sebenarnya. Sayangnya, aku tidak bisa ikut. Ibu lagi sakit dan ayah belum
bisa pulang karena masih ada lembur dikantor.”
Menurut klasifikasi Austin & Searle
tuturan yang disampaikan oleh Poniran masuk kedalam jenis Ilokusi yaitu tuturan
yang menyatakan sesuatu kepada petutur untuk melakukan sesuatu. Dalam tuturan
tersebut Poniran meminta teman-temanya untuk tidak pergi dan menginginkan
teman-temannya menemani Rohmat. Sebagaimana yang diucapkan Rohmat sebagai
berikut
“sudah.
Kita disini saja sambil nemenin Rohmat.”
Sedangkan menurut Searle, tindak tutur Poniran
termasuk kedalam jenis Direktif, yaitu sebuah tindak tutur yang dipakai untuk
meminta, menyuruh, atau menyarankan petutur untuk melakukan sesuatu sebagaiman
yang diinginkan oleh penutur. Poniran menyarankan teman-temannya untuk tidak
pergi kemana-mana dan menemani Rohmat. Sebagaimana kutipan berikut
“sudah.
Kita disini saja sambil nemenin Rohmat.”
2. Di ruang J6 para mahasiswa sedang memperhatikan penjelasan dosen tentang salah satu metode pembelajaran.
(sembari berbisik, Bejo dan Retno berbincang seputar pelajaran yang mereka terima)
Bejo : "ya Allah. Tak perhatikan dari tadi kok tidak paham-paham ya."
Retno : "yang ini memang agak rumit. Langkah-lamgkahnya banyak. Tapi pasti bisa. Semangat!"
Dosen : "untuk lebih memudahkanmu dalam memahami metode ini, kamu bisa membaca buku-buku metode yang ada di perpustakaan. Satu hal lagi, untuk studi banding ke Bandung, Ibu Dina yang akan mendampingi menggantikan Pak Dian."
Bejo : "aduh! Mati aku. Baca lagi-baca lagi. Buku-buku yang kemarin aja belum tersentuh. Buku yang lain sudah menunggu. Belum tugas-tugas di rumah yang lain. Jadi kepingin lari aja ke Bali, bersantai sambil berjemur di pantai."
Analisis:
Dari percakapan di atas, secara makna dan tujuan tuturan, tuturan yang disampaikan oleh Bejo, menurut konsep tidak tutur Austin dan Searle, masuk kedalam jenis tindak tutur Ilokusi, yaitu sebuah tindak tutur yang menginginkan adanya suatu tindakan dari mitra tutur. Dalam hal ini petuturnya adalah Retno dan Dosen. Dalam tuturan tersebut, Bejo meminta Retno melakukan suatu respon berupa kegiatan untuk bisa membantu memahami hal yang belum ia pahami dalam pembelajaran yang sedang berlangsung. Sebagaimana yang terlihat di dalam potongan ucapan Bejo sebagai berikut:
"ya Allah. Tak perhatikan dari tadi kok tidak paham-paham ya."
Sedangkan menurut konsep tindak tutur Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Bejo, masuk kedalam bentuk tindak tutur Ekspresif, yaitu sebuah tindak tutur yang, menyatakan suatu perasaan psikologis yang di rsa oleh penutur. Bejo menyampaikan rasa psikologis yang dia rasakan akibat tidak memahami metode pembelajaran yang sedang diajarkan dosen. Dia merasa kesulitan memahami pembelajaran tersebut. Sebagaiman terlihat dalam ucapannya sebagai berikut:
"ya Allah. Tak perhatikan dari tadi kok tidak paham-paham ya."
Menurut klasifikasi Austin dan Searle, tuturan yang disampaikan oleh Retno masuk dalam jenis Perlokusi, yaitu tuturan yang menginginkan reaksi batin mitra tutur. Dalam tuturan tersebut, Retno berusaha menyemangati Bejo dan dirinya sendiri agar mampu memahami metode pembelajaran yang sedang diajarkan oleh dosen yang menurutnya memang agak rumit. Sebagaimana yang tampak dalam tuturan yang disampaikan Retno sebagai berikut:
"yang ini memang agak rumit. Langkah-langkahnya banyak. Tapi pasti bisa. Semangat!"
Sedangkan menurut konsep Searle, tindak tutur Retno termasuk dalam jenis Representatif, yaitu tuturan yang menyatakan suatu informasi yang tak terbantahkan. Retno dengan tanpa ragu membenarkan bahwa pembelajaran yang sedang di ajarkan memang rumit dan terkesan sulit dipahami karena langkah-langkahnya yang banyak. Menurut Retno, semua dapat diatasi dengan semangat dan rasa optimis, sebagaimana kutipan berikut:
"yang ini memang agak rumit. Langkah-langkahnya banyak. Tapi pasti bisa. Semangat!"
Secara makna dan tujuan tuturan, tuturan yang disampaikan oleh Dosen, menurut konsep tindak tutur Austin dan Searle, masuk ke dalam jenis tindak tutur Ilokusi, yaitu tuturan yang menginginkan adanya suatu tindakan dari mitra tutur dan jenis tindak tutur Lokusi, yang sifatnya hanya memberi informasi saja. Dalam tuturan tersebut, Dosen menyuruh Bejo dan Retno untuk membaca buku-buku yang ada di perpustakaan untuk membantu mempermudah pemahaman atas materi yang sedang di ajarkan. Selain itu, Dosen juga memberi informasi pada mahasiswa bahwa yang mendampingi studi banding ke Bandung adalah Bu Dina yang menggantikan Pak Dian, sebagaimana kutipan berikut:
"untuk lebih memudahkanmu dalam memahami metode ini, kamu bisa membaca buku-buku metode yang ada di perpustakaan. Satu hal lagi, untuk studi banding ke Bandung, Ibu Dina yang akan mendampingi menggantikan Pak Dian."
Sedangkan menurut konsep Searle, tindak tutur Dosen termasuk dalam jenis Direktif, yaitu tuturan yang meminta/menyuruh/memohon mitra tutur untuk melakukan suatu tindakan. dan termasuk juga dalam jenis Deklaratif, yaitu tuturan yang menyatakan informasi/keadaan terbaru. Dalam tuturan tersebut, Dosen menyarankan mahasiswanya untuk membaca buku-buku yang ada di perpustakaan untuk mempermudah dalam memahami materi pembelajarannya. Dosen juga memberi informasi bahwa Pak Dian digantikan oleh Bu Dina untuk mendampingi studi banding ke Bandung. sebagaimana kutipan berikut;
"untuk lebih memudahkanmu dalam memahami metode ini, kamu bisa membaca buku-buku metode yang ada di perpustakaan. Satu hal lagi, untuk studi banding ke Bandung, Ibu Dina yang akan mendampingi menggantikan Pak Dian."
Menurut klasifikasi Austin dan Searle, tuturan yang disampaikan oleh Bejo masuk dalam jenis Lokusi, yaitu tuturan yang menekankan pada hanya memberi informasi saja, dan tidak menginginkan apapun dari mitra tutur, Dalam tuturan tersebut, Bejo memberi tahu mitra tutur bahwa ia belum menyelesaikan buku-buku yang ada dirumah untuk di baca. namun dosen menyuruh untuk membaca buku-buku lain di perpustakaan. Ia jadi ingin kabur ke Bali untuk bersantai dan berjemur di pantai, sebagaimana kutipan berikut:
"aduh! Mati aku. Baca lagi-baca lagi. Buku-buku yang kemarin aja belum tersentuh. Buku yang lain sudah menunggu. Belum tugas-tugas di rumah yang lain. Jadi kepingin lari aja ke Bali, bersantai sambil berjemur di pantai."
Sedangkan menurut konsep tindak tutur Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Bejo masuk dalam bentuk tindak tutur Ekspresif, yaitu sebuah tindak tutur yang menyatakan suatu perasaan psikologis/keluhan yang di rasa oleh penutur. Bejo menyampaikan rasa psikologis yang dia rasakan akibat banyaknya buku yang belum dia baca, tugas di rumah yang masih menumpuk, namun dosen menyuruhnya untuk membaca buku lain yang ada di perpustakaan, sebagaimana dalam kutipan berikut:
"aduh! Mati aku. Baca lagi-baca lagi. Buku-buku yang kemarin aja belum tersentuh. Buku yang lain sudah menunggu. Belum tugas-tugas di rumah yang lain. Jadi kepingin lari aja ke Bali, bersantai sambil berjemur di pantai."
3. Di suatu sore, Wawan sedang asyik menonton acara tv kesukaanya, seangkan ibunya sedang bekerja sendiri di dapur.
Ibu : "Wan, apa kamu tidak capek dari tadi nonton tv? Ibu banyak kerjaan ini lho."
Wawan : "sebentar lagi ya bu. Masih nanggung untuk beranjak. Lagi seru-serunya ini."
Ibu : "kamu itu kalo dimintai tolong kok mesti selalu nawar tho Wan."
Wawan : "iya bu. Maafkan Wawan." (sambil beranjak dari depan tv menuju ke dapur)
Analisis:
Dari percakapan di atas, menurut konsep Austin dan Searle, tuturan dari Ibu masuk ke dalam jenis tindak tutur Ilokusi, yaitu tindak tutur yang menginginkan adanya suatu tindakan dari petutur. dalam tuturan tersebut, Ibu menginginkan agar Wawan segera mematikan tv dan segera membantu beliau di dapur. sebagaimana terlihat dalam kutipan berikut:
"Wan, apa kamu tidak capek dari tadi nonton tv? Ibu banyak kerjaan ini lho."
Sedangkan menurut konsep Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Ibu termasuk ke dalam tindak tutur Direktif, yaitu tuturan yang mek melakukan meminta/menyuruh petutur untuk melakukan suatu tindakan. Dalam tuturan tersebut, Ibu menginginkan Wawan untuk membantunya di dapur. sebagaimana dalam kutipan berikut:
"Wan, apa kamu tidak capek dari tadi nonton tv? Ibu banyak kerjaan ini lho."
Dari percakapan di atas, meurut konsep Austin dan Searle, tuturan dari Wawan termasuk jenis tindak tutur Ilokusi, yaitu tindak tutur yang menginginkan adanya suatu tindakan dari petutur. Dalam hal ini, Wawan menginginkan agar ibunya menunggu sampai Wawan selesai menonton tv. Sebagaimana yang terlihat di dalam potongan ucapan Wawan sebagai berikut:
"sebentar lagi ya bu. Masih nanggung untuk beranjak. Lagi seru-serunya ini."
Sedangkan menurut konsep Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Wawan termasuk dalam tindak tutur Komisif, yaitu tuturan yang mengikat diri penutur/petutur terhadap sesuatu. Dalam hal ini Wawan menyatakan kesanggupannya untuk membantu ibunya setelah selesai menonton tv. seperti terlihat dalam kutipan berikut:
"sebentar lagi ya bu. Masih nanggung untuk beranjak. Lagi seru-serunya ini."
Dari percakapan di atas, menurut konsep Austin dan Searle, tuturan Ibu termasuk tindak tutur Ilokusi, yaitu tindak tutur yang menginginkan adanya suatu tindakan dari petutur. Dalam hal ini, Ibu menginginkan Wawan segera membantunya saat di mintai tolong. tampak dalam kutipan berikut:
"kamu itu kalo dimintai tolong kok mesti selalu nawar tho Wan."
Sedangkan menurut konsep tindak tutur Searle, tuturan Ibu termasuk dalam tindak tutur Ekspresif, yaitu sebuah tindak tutur yang menyatakan suatu perasaan psikologis/keluhan yang di rasa oleh penutur. KArena dalam hal ini, Ibu memberikan kritikan terhadap Wawan yang selalu menawar saat di mintai tolong oleh ibunya, sebagaimana kutipan berikut:
"kamu itu kalo dimintai tolong kok mesti selalu nawar tho Wan."
Tuturan yang disampaikan oleh Wawan menurut konsep Austin dan Searle termasuk ke dalam tindak tutur Lokusi, yaitu tuturan yang menekankan pada hanya memberi informasi saja. dalam hal ini, Wawan menyatakan permintaan maafnya pada sang ibu. tampak pada kutipan sabagai berikut:
"iya bu. Maafkan Wawan." (sambil beranjak dari depan tv menuju ke dapur)"
Sedangkan menurut konsep Searle, tuturan Wawan termasuk dalam bentuk Direktif, yaitu tuturan yang meminta/memohon petutur untuk melakukan suatu tindakan. dalam hal ini, Wawan berharap agar Ibu memaafkannya dan agar hal tersebut bisa terwujud, ia segera menuju ke dapur untuk membantu ibunya, seperti tampak pada kutipan berikut:
"iya bu. Maafkan Wawan." (sambil beranjak dari depan tv menuju ke dapur)"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar