Jumat, 17 April 2015

ANALISIS PERCAKAPAN BERDASARKAN DEIKSIS

Berdasarkan konsep deiksis, tentukan jenis-jenis deiksis yang digunakan dan hubungan jaraknya dari percakapan di bawah ini!
1.      Percakapan 1
Toni sedang bertamu di rumah temannya, Andi, selepas dari mengantar kakaknya ke station.
Andi    : “Kemarin kamu dari Surabaya ya, Ton?”
Toni     : “bukan aku, tapi ibuku. Eh, kamu tidak ikut acara besok di kampus?”
Andi    : “besok aku di sini saja menemani kakek.”(kakek keluar dari kamar)
Kakek  : ”ooo…nak Toni, bagaimana kabarnya?
Toni     : “Alhamdulillah, kabar saya baik kek.”
Berdasarkan konsep deiksis, pada percakapan di atas terdapat:
A.    DeiksisPersona
Dalam percakapan diatas Deiksis yang digunakan adalah Deiksis Persona-Proksimal karena penutur menyebut dirinya dengan sebutan “aku” (orang pertama) dan mitra tutur dengan sebutan “kamu” (orang kedua),  kata sapaan tersebut menunjukkan kedekatan hubungan psikologis (akrab) antar pembicara seperti terlihat dalam percakapan berikut :
Andi           : “Kemarin kamu dari Surabaya ya, Ton?”
Toni           : “bukan aku, tapi ibuku. Eh, kamu tidak ikut acara besok di kampus?”
Sementara itu “ibuku” dan “kakek” merupakan kata sapaan orang ketiga yang termasuk Deiksis Persona-Distal karena orang tersebut tidak terlibat dalam percakapan, seperti dalam percakapan berikut:
Toni           : “bukan aku,tapi ibuku. Eh, kamu tidak ikut acara besok di kampus?”
Andi           : “besok aku di sini saja menemani kakek.”
Terakhir yaitu percakapan antara kakek dan Toni yang termasuk Deiksis Persona-Proksimal. Karena terlibat langsung dalam percakapan. Kata sapaan yang digunakan yaitu “nak Toni” dan “kek” sebenarnya termasuk orang ketiga, namun disitu digunakan untuk menghormati dan mengakrabkan diri dengan lawan bicara. Dari kata sapaan yang mereka gunakan secara psikologi hubungan yang mereka miliki juga jauh,seperti pada percakapan berikut:
Kakek        : ”ooo…nak Toni, bagaimana kabarnya?
Toni           : “Alhamdulillah, kabar saya baik kek.”         
Dari percakapan diatas secara fisik, percakapan Andi dan Toni dekat karena dilakukan dengan bertatap muka secara langsung (deiksis persona-proksimal). Sementara itu “ibu” jauh karena tidak terlibat dalam percakapan tersebut (deiksis Persona-Distal).Secara psikogi, percakapan Andi dan Toni menunjukkan kedekatan yang akrab atau dekat karena menggunakan kata sapaan “Aku” dan “Kamu”.
Sementara itu, percakapan antara Kakek dan Toni menggunakan kata sapaan nama yaitu “nak Toni” (orang kedua) , “Saya” (orang pertama) dan “kek” (orang kedua). Secara fisik percakapan yang mereka lakukan dekat karena dilakukan secara bertatap muka langsung (Deiksis Persona-Proksimal).
B.     DeiksisTempat
Kata Surabaya, di kampus, dan di sini termasuk Deiksis Tempat-Distal (jauh), karena jauh dari penutur. Maksudnya tempat tersebut tidak dijangkau oleh mitra tutur, mereka tidak berada di tempat itu.Dan masih dalam tahap rencana seperti pada percakapan di bawah ini:
Andi           : “Kemarin kamu dari Surabaya ya, Ton?”
Toni           : “bukan aku, tapi ibuku. Eh, kamu tidak ikut acara besok di kampus?”
Andi           : “besok aku di sini saja menemani kakek.
C.    Deiksis Waktu
Dari percakapan di atas terdapat kata “kemarin” dan “besok”  yang menunjukkan Deiksis Waktu-Distal karena terjadi pada waktu lampau (kemarin) dan waktu yang akan datang (besok)
D.    Deiksis Tata Bahasa
Dari percakapan diatas terlihat menggunakan deiksis tata bahasa proksimal menggunakan kalimat langsung. Karena percakapan ini dengan cara bertatap muka langsung.

2.      Percakapan 2:
Ibu bercerita tentang masa mudanya dulu kepada Intan, putri tercintanya.
Ibu       : “dulu waktu masih muda, ibu sering mendaki gunung bersama teman-teman pecinta alam.”
Intan    : “waaah, ibu keren. Sudah mendaki ke gunung mana saja bu?”
Ibu       : “Kelud, Merapi, Penanggungan, Semeru, dan banyak lagi nak. Ibu lupa.”
Intan    : “intan nanti kalau sudah besar, juga pingin seperti ibu ah.”
A.    DeiksisPersona
Dalam percakapan diatas penutur menyebut dirinya dengan sebutan “Ibu” (orang pertama), mitra tutur menyebut penutur dengan sebutan“Ibu” (orang kedua), penutur menyebut petutur dengan sebutan “Nak” (orang pertama), dan petutur menyebut dirinya dengan sebutan nama “Intan” (orang pertama) kata sapaan tersebut menunjukkan kedekatan hubungan psikologis dan memerlihatkan sikap saling sopan dan menghargai, seperti terlihat dalam percakapan berikut :
Ibu             : “dulu waktu masih muda, ibu sering mendaki gunung bersama teman-teman pecinta alam.”
Intan          : “waaah, ibu keren. Sudah mendaki ke gunung mana saja bu?”
Ibu             : “Kelud, Merapi, Penanggungan, Semeru, dan banyak lagi nak. Ibu lupa.”
Intan          : “intan nanti kalau sudah besar, juga pingin seperti ibu ah.”
B.     DeiksisTempat
Kata “mendaki gunung” di Kelud, Merapi, Penanggungan, Semeru menunjukkan Deiksis Tempat-Distal (mendaki gunung berarti di gunung), dikatakan jauh karena saat itu mitra tutur tidak berada di tempat itu.
C.    DeiksisWaktu
Terdapat kata “dulu” yang menunjukkan Deiksis Waktu-Proksimal, hal itu karena menunjukkan waktu lampau/jauh dari waktu saat mitra tutur melakukan percakapan, seperti pada tuturan berikut:
Ibu : “dulu waktu masih muda, ibu sering mendaki gunung bersama teman-teman pecinta alam.”
Selain itu terdapat kata “nanti” yang menunjukkan waktu yang jauh karena masa yang akan dating namun secara psikologis terasa dekat karena keinginannya yang besar (antusias) untuk menjadi seperti ibunya.Seperti pada kalimat di bawah ini:
Intan          : “intan nanti kalau sudah besar, juga pingin seperti ibu ah.”
D.    Deiksis Tata Bahasa
Dari percakapan diatas terlihat menggunakan deiksis tata bahasa proksimal menggunakan kalimat langsung. Karena percakapan ini dengan cara bertatap muka langsung.

3.      Percakapan 3
Terjadi pertengkaran di kelas bahasa yang berujung pada pemberian hukuman untuk semua siswa kelas bahasa tanpa terkecuali.
Firman             : “andai saja Donita ditidak teriak-teriak, pasti jadinya tidak akan begini. Kita kena jemur di lapangan.”
Puji                  : “dia memang trouble maker, badannya saja besar, tapi cengeng.”
Andri               : “yang lebih apes ituaku, barusajamasukkelas, sudahkenamarahpak Dian, padahalakutidakikutan. Cobasajatadiakutetap di perpus, pastitidakikutandijemur.”
Pak Dian         : “Kepanasan? Sudah kapok belum?
Siswa               : “mendidihpak, kitasudah kapok pak.”
Pak Dian         : “ yasudah. Sekarang, semuakembalikekelas.Ingat, jangandiulangilagi.”
Siswa               : “yapak, kami berjanjitidakakanmengulanginyalagi.
1.      Deiksis Persona
Dalam percakapan diatas Deiksis yang digunakan adalah Deiksis Persona-Proksimal karena penutur menyebut dirinya dan mitra tuturnya dengan sebutan “kitasebagai orang pertama, seperti pada percakapan berikut:
Firman: “andai saja Doni tadi tidak teriak-teriak, pasti jadinya tidak akan begini. Kita kena jemur di lapangan.”
Kemudian dalam tuturan itu penutur juga menyebutkan “Doni” sebagai orang ketiga yang berarti tidak terlibat dalam percakapan sehingga termasuk dalam deiksis persona Distal (jauh) karena Doni tidak terlibat langsung dalam pembicaraan, seperti percakapan berikut:
Firman: “andai saja Doni tadi tidak teriak-teriak, pasti jadinya tidak akan
begini. Kita kena jemur di lapangan.”
Selain itu Penutur menyebut petutur dengan sebutan “Dia” (orang ketiga)yang berarti tidak terlibat dalam percakapan sehingga termasuk dalam deiksis persona Distal (jauh) karena “Dia” disini adalah Doni yang tidak terlibat langsung dalam percakapan, seperti percakapan berikut:
Puji                    : “dia memang trouble maker, badannya saja besar, tapi cengeng.”
Selain itu petutur menyebut dirinya dengan “Aku” sebagai orang pertama, yang termasuk dalam deiksis persona proksimal karena Andri Terlibat langsung dalam percakapan, selain itu secara psikologis kata “Aku” disini menunjukkan kedekatan atau keakraban antara penutur dan petutur.seperti yang terlihat pada percakapan berikut
Andri : “yang lebih apes itu aku, baru saja masuk kelas, sudah kena marah pak Dian, padahal aku tidak ikutan. Coba saja tadi aku tetap di perpus, pasti tidak ikutan dijemur.”
Petutur juga menyebutkanpetutur lainnya dengan sebutan “Pak” sebagai orang kedua dan secara fisik percakapan yang mereka lakukan dekat karenadilakukan dengan bertatap muka secara langsung (Deiksis Persona-Proksimal). Seperti yang terlihat pada percakapan berikut:
Siswa   : “mendidih pak, kita sudah kapok pak.”

2.      DeiksisTempat
Kata kelas dan perpus termasuk dalam Deiksis Tempat-Distal, karena jauh dari penutur. Maksudnya tempat tersebut tidak dijangkau oleh mitra tutur, mereka tidak berada di tempat itu.Sedangkan kata lapangan termasuk dalam Deiksis Proksimal (dekat), yaitu dimana penutur atau petutur dapat mengendalikan tempat tersebut. Seperti yang terlihat dalam percakapan berikut:
Firman            : “andai saja Doni tadi tidakt eriak-teriak, pasti jadinya tidakakan begini. Kita kena jemur di lapangan.”
Andri                 : “yang lebih apes ituaku, baru saja masuk kelas, sudah kena marah pak Dian, padahal aku tidak ikutan. Coba saja tadi aku tetap di perpus, pasti tidak ikutan dijemur.”

3.    DeiksisWaktu
Dari percakapan di atas terdapat kata “Andaimenunjukkan Deiksis Waktu Distal karena masih berbentuk pengandaian dan kata sekarang”  menunjukkan Deiksis Waktu-proksimal karena terjadi pada saat peristiwa itu berlangsung. Seperti yang terdapat pada potongan percakapan berikut:
Firman        : “andai saja Donita di tidakteriak-teriak, pasti jadinya tidak akan begini. Kita kena jemur di lapangan.”
Pak Dian    : “ yasudah. Sekarang, semua kembali ke kelas.Ingat, jangan diulangi lagi.”

4.      Deiksis Tata Bahasa

Dari percakapan diatas terlihat menggunakan deiksis tata bahasa proksimal menggunakan kalimat langsung. Karena percakapan ini dengan cara bertatap muka langsung.

Minggu, 05 April 2015

Tugas 30 Maret 2015

1. Hari minggu sore, Andi dan teman-teman berkumpul di rumah Rahmat. Mereka sudah lama tidak saling jumpa setelah masing-masing melanjutkan studi di kota yang berbeda.
Andi : “jalan-jalan sore gini enak lho sambil incip-incip duren di Sekartaji."
Heru : “hmmmm..... apa enaknya? Enakan ke Rental PS.”
Rohmat : “semua enak sebenarnya. Sayangnya, aku tidak bisa ikut. Ibu lagi sakit dan ayah belum bisa pulang karena masih ada lembur dikantor.”
Poniran : “sudah. Kita disini saja sambil nemenin Rohmat.”

Analisis :
                Dari percakapan diatas, secara makna dan tujuan tuturan, tuturan yang disampaikan oleh Andi, menurut konsep tindak tutur Austin & Searle masuk kedalam jenis tindak tutur Ilokusi, yaitu sebuah tindak tutur yang menginginkan adanya suatu tindakan dari petutur, dalam hal ini petuturnya adalah Heru, Rohmat, Poniran.
                Di dalam tuturan tersebut, Andi menyampaikan keinginannya untuk makan duren dan berharap teman-temannya mau melakukan apa yang diinginkan Andi. Sebagai mana yang terlihat di dalam potongan ucapan Andi sebagai berikut :
                “jalan-jalan sore gini enak lho sambil incip-incip duren di Sekartaji."

                Sedangkan menurut konsep tindak tutur Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Andi, masuk kedalam bentuk tindak tutur Direktif, yaitu sebuah tindak tutur yang meminta/menyuruh petutur untuk melakukan sesuatu tindakan yang disampaikan penutur. Andi menyampaikan keinginannya untuk makan duren dan berharap temannya melakukannya. Sebagaimana terlihat dalam ucapannya berikut:
“jalan-jalan sore gini enak lho sambil incip-incip duren di Sekartaji."

Menurut konsep tindak tutur Austin & Searle, tuturan yang disampaikan oleh Heru masuk kedalam jenis tindak tutur Ilokusi, yaitu tuturan yang menyatakan sesuatu kepada petutur untuk melakukan sesuatu. Dalam tuturan tersebut, heru mengajak teman-temannya dan dirinya sendiri untuk pergi ke Rental PS dan berharap teman-temannya mau menuruti ajakannya. Sebagaimana yang terlihat dalam potongan ucapan heru sebagai berikut:
“hmmmm..... apa enaknya? Enakan ke Rental PS.”

                Sedangkan menurut konsep Searle, tindak tutur heru termasuk ke dalam jenis Ekspresif, yaitu sebuah tindak tutur yang dipakai untuk mengomentari. Heru dalam percakapan tersebut mengomentari tuturan andi dan memberikan saran untuk pergi ke rental PS saja. Sebagaimana kutipan berikut
“hmmmm..... apa enaknya? Enakan ke Rental PS.”

Menurut klasifikasi Austin & Searle, tuturan yang disampaikan oleh Rohmat masuk kedalam jenis Perlokusi yaitu sebuah tindak tutur yang menginginkan adanya reaksi batin dari petutur. Didalam tuturan tersebut Rohmat menyampaikan keluh kesahnya karena ibunya yang sedang sakit dan ayahnya belum bisa pulang karena lembur di kantor sehingga Rohmat tidak bisa ikut teman-temannya. Sebagaimana yang terlihat di dalam potongan ucakap Rohmat berikut
“semua enak sebenarnya. Sayangnya, aku tidak bisa ikut. Ibu lagi sakit dan ayah belum bisa pulang karena masih ada lembur dikantor.”

Sedangkan menurut konsep Searle tindak tutur Rohmat termasuk dalam jenis Deklaratif yaitu tuturan yang menyatakan kondisi atau informasi terbaru. Rohmat menyatakan bahwa ibunya sedang sakit dan ayahnya belum bisa pulang karena ada lembur di kantor. Sebagaimana kutipan berikut
“semua enak sebenarnya. Sayangnya, aku tidak bisa ikut. Ibu lagi sakit dan ayah belum bisa pulang karena masih ada lembur dikantor.”

Menurut klasifikasi Austin & Searle tuturan yang disampaikan oleh Poniran masuk kedalam jenis Ilokusi yaitu tuturan yang menyatakan sesuatu kepada petutur untuk melakukan sesuatu. Dalam tuturan tersebut Poniran meminta teman-temanya untuk tidak pergi dan menginginkan teman-temannya menemani Rohmat. Sebagaimana yang diucapkan Rohmat sebagai berikut
“sudah. Kita disini saja sambil nemenin Rohmat.”

Sedangkan menurut Searle, tindak tutur Poniran termasuk kedalam jenis Direktif, yaitu sebuah tindak tutur yang dipakai untuk meminta, menyuruh, atau menyarankan petutur untuk melakukan sesuatu sebagaiman yang diinginkan oleh penutur. Poniran menyarankan teman-temannya untuk tidak pergi kemana-mana dan menemani Rohmat. Sebagaimana kutipan berikut

“sudah. Kita disini saja sambil nemenin Rohmat.”

2. Di ruang J6 para mahasiswa sedang memperhatikan penjelasan dosen tentang salah satu metode pembelajaran.
(sembari berbisik, Bejo dan Retno berbincang seputar pelajaran yang mereka terima)
Bejo : "ya Allah. Tak perhatikan dari tadi kok tidak paham-paham ya."
Retno : "yang ini memang agak rumit. Langkah-lamgkahnya banyak. Tapi pasti bisa. Semangat!"
Dosen : "untuk lebih memudahkanmu dalam memahami metode ini, kamu bisa membaca buku-buku                metode yang ada di perpustakaan. Satu hal lagi, untuk studi banding ke Bandung, Ibu Dina                  yang akan mendampingi menggantikan Pak Dian."
Bejo : "aduh! Mati aku. Baca lagi-baca lagi. Buku-buku yang kemarin aja belum tersentuh. Buku yang lain sudah menunggu. Belum tugas-tugas di rumah yang lain. Jadi kepingin lari aja ke Bali, bersantai sambil berjemur di pantai."

Analisis:
            Dari percakapan di atas, secara makna dan tujuan tuturan, tuturan yang disampaikan oleh Bejo, menurut konsep tidak tutur Austin dan Searle, masuk kedalam jenis tindak tutur Ilokusi, yaitu sebuah tindak tutur yang menginginkan adanya suatu tindakan dari mitra tutur. Dalam hal ini petuturnya adalah Retno dan Dosen. Dalam tuturan tersebut, Bejo meminta Retno melakukan suatu respon berupa kegiatan untuk bisa membantu memahami hal yang belum ia pahami dalam pembelajaran yang sedang berlangsung. Sebagaimana yang terlihat di dalam potongan ucapan Bejo sebagai berikut:
"ya Allah. Tak perhatikan dari tadi kok tidak paham-paham ya."

           Sedangkan menurut konsep tindak tutur Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Bejo, masuk kedalam bentuk tindak tutur Ekspresif, yaitu sebuah tindak tutur yang, menyatakan suatu perasaan psikologis yang di rsa oleh penutur. Bejo menyampaikan rasa psikologis yang dia rasakan akibat tidak memahami metode pembelajaran yang sedang diajarkan dosen. Dia merasa kesulitan memahami pembelajaran tersebut. Sebagaiman terlihat dalam ucapannya sebagai berikut:
"ya Allah. Tak perhatikan dari tadi kok tidak paham-paham ya."

           Menurut klasifikasi Austin dan Searle, tuturan yang disampaikan oleh Retno masuk dalam jenis Perlokusi, yaitu tuturan yang menginginkan reaksi batin mitra tutur. Dalam tuturan tersebut, Retno berusaha menyemangati Bejo dan dirinya sendiri agar mampu memahami metode pembelajaran yang sedang diajarkan oleh dosen yang menurutnya memang agak rumit. Sebagaimana yang tampak dalam tuturan yang disampaikan Retno sebagai berikut:
"yang ini memang agak rumit. Langkah-langkahnya banyak. Tapi pasti bisa. Semangat!"

           Sedangkan menurut konsep Searle, tindak tutur Retno termasuk dalam jenis Representatif, yaitu tuturan yang menyatakan suatu informasi yang tak terbantahkan. Retno dengan tanpa ragu membenarkan bahwa pembelajaran yang sedang di ajarkan memang rumit dan terkesan sulit dipahami karena langkah-langkahnya yang banyak. Menurut Retno, semua dapat diatasi dengan semangat dan rasa optimis, sebagaimana kutipan berikut:
"yang ini memang agak rumit. Langkah-langkahnya banyak. Tapi pasti bisa. Semangat!"

           Secara makna dan tujuan tuturan, tuturan yang disampaikan oleh Dosen, menurut konsep tindak tutur Austin dan Searle, masuk ke dalam jenis tindak tutur Ilokusi, yaitu tuturan yang menginginkan adanya suatu tindakan dari mitra tutur dan jenis tindak tutur Lokusi, yang sifatnya hanya memberi informasi saja.  Dalam tuturan tersebut, Dosen menyuruh Bejo dan Retno untuk membaca buku-buku yang ada di perpustakaan untuk membantu mempermudah pemahaman atas materi yang sedang di ajarkan. Selain itu, Dosen juga memberi informasi pada mahasiswa bahwa yang mendampingi studi banding ke Bandung adalah Bu Dina yang menggantikan Pak Dian, sebagaimana kutipan berikut:
"untuk lebih memudahkanmu dalam memahami metode ini, kamu bisa membaca buku-buku metode yang ada di perpustakaan. Satu hal lagi, untuk studi banding ke Bandung, Ibu Dina yang akan mendampingi menggantikan Pak Dian."

           Sedangkan menurut konsep Searle, tindak tutur Dosen termasuk dalam jenis Direktif, yaitu tuturan yang meminta/menyuruh/memohon mitra tutur untuk melakukan suatu tindakan. dan termasuk juga dalam jenis Deklaratif, yaitu tuturan yang menyatakan informasi/keadaan terbaru. Dalam tuturan tersebut, Dosen menyarankan mahasiswanya untuk membaca buku-buku yang ada di perpustakaan untuk mempermudah dalam memahami materi pembelajarannya. Dosen juga memberi informasi bahwa Pak Dian digantikan oleh Bu Dina untuk mendampingi studi banding ke Bandung. sebagaimana kutipan berikut;
"untuk lebih memudahkanmu dalam memahami metode ini, kamu bisa membaca buku-buku metode yang ada di perpustakaan. Satu hal lagi, untuk studi banding ke Bandung, Ibu Dina yang akan mendampingi menggantikan Pak Dian."

           Menurut klasifikasi Austin dan Searle, tuturan yang disampaikan oleh Bejo masuk dalam jenis Lokusi, yaitu tuturan yang menekankan pada hanya memberi informasi saja, dan tidak menginginkan apapun dari mitra tutur, Dalam tuturan tersebut, Bejo memberi tahu mitra tutur bahwa ia belum menyelesaikan buku-buku yang ada dirumah untuk di baca. namun dosen menyuruh untuk membaca buku-buku lain di perpustakaan. Ia jadi ingin kabur ke Bali untuk bersantai dan berjemur di pantai, sebagaimana kutipan berikut:
"aduh! Mati aku. Baca lagi-baca lagi. Buku-buku yang kemarin aja belum tersentuh. Buku yang lain sudah menunggu. Belum tugas-tugas di rumah yang lain. Jadi kepingin lari aja ke Bali, bersantai sambil berjemur di pantai."

           Sedangkan menurut konsep tindak tutur Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Bejo masuk dalam bentuk tindak tutur Ekspresif, yaitu sebuah tindak tutur yang menyatakan suatu perasaan psikologis/keluhan yang di rasa oleh penutur. Bejo menyampaikan rasa psikologis yang dia rasakan akibat banyaknya buku yang belum dia baca, tugas di rumah yang masih menumpuk, namun dosen menyuruhnya untuk membaca buku lain yang ada di perpustakaan, sebagaimana dalam kutipan berikut:
"aduh! Mati aku. Baca lagi-baca lagi. Buku-buku yang kemarin aja belum tersentuh. Buku yang lain sudah menunggu. Belum tugas-tugas di rumah yang lain. Jadi kepingin lari aja ke Bali, bersantai sambil berjemur di pantai."

3. Di suatu sore, Wawan sedang asyik menonton acara tv kesukaanya, seangkan ibunya sedang bekerja sendiri di dapur.
Ibu : "Wan, apa kamu tidak capek dari tadi nonton tv? Ibu banyak kerjaan ini lho."
Wawan : "sebentar lagi ya bu. Masih nanggung untuk beranjak. Lagi seru-serunya ini."
Ibu : "kamu itu kalo dimintai tolong kok mesti selalu nawar tho Wan."
Wawan : "iya bu. Maafkan Wawan." (sambil beranjak dari depan tv menuju ke dapur)

Analisis:
            Dari percakapan di atas, menurut konsep Austin dan Searle, tuturan dari Ibu masuk ke dalam jenis tindak tutur Ilokusi, yaitu tindak tutur  yang menginginkan adanya suatu tindakan dari petutur. dalam tuturan tersebut, Ibu menginginkan agar Wawan segera mematikan tv dan segera membantu beliau di dapur. sebagaimana terlihat dalam kutipan berikut:
"Wan, apa kamu tidak capek dari tadi nonton tv? Ibu banyak kerjaan ini lho."

            Sedangkan menurut konsep Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Ibu termasuk ke dalam tindak tutur Direktif, yaitu tuturan yang mek melakukan meminta/menyuruh petutur untuk melakukan suatu tindakan. Dalam tuturan tersebut, Ibu menginginkan Wawan untuk membantunya di dapur. sebagaimana dalam kutipan berikut:
"Wan, apa kamu tidak capek dari tadi nonton tv? Ibu banyak kerjaan ini lho."

           Dari percakapan di atas, meurut konsep Austin dan Searle, tuturan dari Wawan termasuk jenis tindak tutur Ilokusi, yaitu tindak tutur  yang menginginkan adanya suatu tindakan dari petutur. Dalam hal ini, Wawan menginginkan agar ibunya menunggu sampai Wawan selesai menonton tv. Sebagaimana yang terlihat di dalam potongan ucapan Wawan sebagai berikut:
"sebentar lagi ya bu. Masih nanggung untuk beranjak. Lagi seru-serunya ini."

            Sedangkan menurut konsep Searle, tindak tutur yang disampaikan oleh Wawan termasuk dalam tindak tutur Komisif, yaitu tuturan yang mengikat diri penutur/petutur terhadap sesuatu. Dalam hal ini Wawan menyatakan kesanggupannya untuk membantu ibunya setelah selesai menonton tv. seperti terlihat dalam kutipan berikut:
"sebentar lagi ya bu. Masih nanggung untuk beranjak. Lagi seru-serunya ini."

           Dari percakapan di atas, menurut konsep Austin dan Searle, tuturan Ibu termasuk tindak tutur Ilokusi, yaitu tindak tutur yang menginginkan adanya suatu tindakan dari petutur. Dalam hal ini, Ibu menginginkan Wawan segera membantunya saat di mintai tolong. tampak dalam kutipan berikut:
"kamu itu kalo dimintai tolong kok mesti selalu nawar tho Wan."

          Sedangkan menurut konsep tindak tutur Searle, tuturan Ibu termasuk dalam tindak tutur Ekspresif, yaitu sebuah tindak tutur yang menyatakan suatu perasaan psikologis/keluhan yang di rasa oleh penutur. KArena dalam hal ini, Ibu memberikan kritikan terhadap Wawan yang selalu menawar saat di mintai tolong oleh ibunya, sebagaimana kutipan berikut:
"kamu itu kalo dimintai tolong kok mesti selalu nawar tho Wan."

          Tuturan yang disampaikan oleh Wawan menurut konsep Austin dan Searle termasuk ke dalam tindak tutur Lokusi, yaitu tuturan yang menekankan pada hanya memberi informasi saja.  dalam hal ini, Wawan menyatakan permintaan maafnya pada sang ibu. tampak pada kutipan sabagai berikut:
"iya bu. Maafkan Wawan." (sambil beranjak dari depan tv menuju ke dapur)"

          Sedangkan menurut konsep Searle, tuturan Wawan termasuk dalam bentuk Direktif, yaitu tuturan yang meminta/memohon petutur untuk melakukan suatu tindakan. dalam hal ini, Wawan berharap agar Ibu memaafkannya dan agar hal tersebut bisa terwujud, ia segera menuju ke dapur untuk membantu ibunya, seperti tampak pada kutipan berikut:
"iya bu. Maafkan Wawan." (sambil beranjak dari depan tv menuju ke dapur)"