Jumat, 17 April 2015

ANALISIS PERCAKAPAN BERDASARKAN DEIKSIS

Berdasarkan konsep deiksis, tentukan jenis-jenis deiksis yang digunakan dan hubungan jaraknya dari percakapan di bawah ini!
1.      Percakapan 1
Toni sedang bertamu di rumah temannya, Andi, selepas dari mengantar kakaknya ke station.
Andi    : “Kemarin kamu dari Surabaya ya, Ton?”
Toni     : “bukan aku, tapi ibuku. Eh, kamu tidak ikut acara besok di kampus?”
Andi    : “besok aku di sini saja menemani kakek.”(kakek keluar dari kamar)
Kakek  : ”ooo…nak Toni, bagaimana kabarnya?
Toni     : “Alhamdulillah, kabar saya baik kek.”
Berdasarkan konsep deiksis, pada percakapan di atas terdapat:
A.    DeiksisPersona
Dalam percakapan diatas Deiksis yang digunakan adalah Deiksis Persona-Proksimal karena penutur menyebut dirinya dengan sebutan “aku” (orang pertama) dan mitra tutur dengan sebutan “kamu” (orang kedua),  kata sapaan tersebut menunjukkan kedekatan hubungan psikologis (akrab) antar pembicara seperti terlihat dalam percakapan berikut :
Andi           : “Kemarin kamu dari Surabaya ya, Ton?”
Toni           : “bukan aku, tapi ibuku. Eh, kamu tidak ikut acara besok di kampus?”
Sementara itu “ibuku” dan “kakek” merupakan kata sapaan orang ketiga yang termasuk Deiksis Persona-Distal karena orang tersebut tidak terlibat dalam percakapan, seperti dalam percakapan berikut:
Toni           : “bukan aku,tapi ibuku. Eh, kamu tidak ikut acara besok di kampus?”
Andi           : “besok aku di sini saja menemani kakek.”
Terakhir yaitu percakapan antara kakek dan Toni yang termasuk Deiksis Persona-Proksimal. Karena terlibat langsung dalam percakapan. Kata sapaan yang digunakan yaitu “nak Toni” dan “kek” sebenarnya termasuk orang ketiga, namun disitu digunakan untuk menghormati dan mengakrabkan diri dengan lawan bicara. Dari kata sapaan yang mereka gunakan secara psikologi hubungan yang mereka miliki juga jauh,seperti pada percakapan berikut:
Kakek        : ”ooo…nak Toni, bagaimana kabarnya?
Toni           : “Alhamdulillah, kabar saya baik kek.”         
Dari percakapan diatas secara fisik, percakapan Andi dan Toni dekat karena dilakukan dengan bertatap muka secara langsung (deiksis persona-proksimal). Sementara itu “ibu” jauh karena tidak terlibat dalam percakapan tersebut (deiksis Persona-Distal).Secara psikogi, percakapan Andi dan Toni menunjukkan kedekatan yang akrab atau dekat karena menggunakan kata sapaan “Aku” dan “Kamu”.
Sementara itu, percakapan antara Kakek dan Toni menggunakan kata sapaan nama yaitu “nak Toni” (orang kedua) , “Saya” (orang pertama) dan “kek” (orang kedua). Secara fisik percakapan yang mereka lakukan dekat karena dilakukan secara bertatap muka langsung (Deiksis Persona-Proksimal).
B.     DeiksisTempat
Kata Surabaya, di kampus, dan di sini termasuk Deiksis Tempat-Distal (jauh), karena jauh dari penutur. Maksudnya tempat tersebut tidak dijangkau oleh mitra tutur, mereka tidak berada di tempat itu.Dan masih dalam tahap rencana seperti pada percakapan di bawah ini:
Andi           : “Kemarin kamu dari Surabaya ya, Ton?”
Toni           : “bukan aku, tapi ibuku. Eh, kamu tidak ikut acara besok di kampus?”
Andi           : “besok aku di sini saja menemani kakek.
C.    Deiksis Waktu
Dari percakapan di atas terdapat kata “kemarin” dan “besok”  yang menunjukkan Deiksis Waktu-Distal karena terjadi pada waktu lampau (kemarin) dan waktu yang akan datang (besok)
D.    Deiksis Tata Bahasa
Dari percakapan diatas terlihat menggunakan deiksis tata bahasa proksimal menggunakan kalimat langsung. Karena percakapan ini dengan cara bertatap muka langsung.

2.      Percakapan 2:
Ibu bercerita tentang masa mudanya dulu kepada Intan, putri tercintanya.
Ibu       : “dulu waktu masih muda, ibu sering mendaki gunung bersama teman-teman pecinta alam.”
Intan    : “waaah, ibu keren. Sudah mendaki ke gunung mana saja bu?”
Ibu       : “Kelud, Merapi, Penanggungan, Semeru, dan banyak lagi nak. Ibu lupa.”
Intan    : “intan nanti kalau sudah besar, juga pingin seperti ibu ah.”
A.    DeiksisPersona
Dalam percakapan diatas penutur menyebut dirinya dengan sebutan “Ibu” (orang pertama), mitra tutur menyebut penutur dengan sebutan“Ibu” (orang kedua), penutur menyebut petutur dengan sebutan “Nak” (orang pertama), dan petutur menyebut dirinya dengan sebutan nama “Intan” (orang pertama) kata sapaan tersebut menunjukkan kedekatan hubungan psikologis dan memerlihatkan sikap saling sopan dan menghargai, seperti terlihat dalam percakapan berikut :
Ibu             : “dulu waktu masih muda, ibu sering mendaki gunung bersama teman-teman pecinta alam.”
Intan          : “waaah, ibu keren. Sudah mendaki ke gunung mana saja bu?”
Ibu             : “Kelud, Merapi, Penanggungan, Semeru, dan banyak lagi nak. Ibu lupa.”
Intan          : “intan nanti kalau sudah besar, juga pingin seperti ibu ah.”
B.     DeiksisTempat
Kata “mendaki gunung” di Kelud, Merapi, Penanggungan, Semeru menunjukkan Deiksis Tempat-Distal (mendaki gunung berarti di gunung), dikatakan jauh karena saat itu mitra tutur tidak berada di tempat itu.
C.    DeiksisWaktu
Terdapat kata “dulu” yang menunjukkan Deiksis Waktu-Proksimal, hal itu karena menunjukkan waktu lampau/jauh dari waktu saat mitra tutur melakukan percakapan, seperti pada tuturan berikut:
Ibu : “dulu waktu masih muda, ibu sering mendaki gunung bersama teman-teman pecinta alam.”
Selain itu terdapat kata “nanti” yang menunjukkan waktu yang jauh karena masa yang akan dating namun secara psikologis terasa dekat karena keinginannya yang besar (antusias) untuk menjadi seperti ibunya.Seperti pada kalimat di bawah ini:
Intan          : “intan nanti kalau sudah besar, juga pingin seperti ibu ah.”
D.    Deiksis Tata Bahasa
Dari percakapan diatas terlihat menggunakan deiksis tata bahasa proksimal menggunakan kalimat langsung. Karena percakapan ini dengan cara bertatap muka langsung.

3.      Percakapan 3
Terjadi pertengkaran di kelas bahasa yang berujung pada pemberian hukuman untuk semua siswa kelas bahasa tanpa terkecuali.
Firman             : “andai saja Donita ditidak teriak-teriak, pasti jadinya tidak akan begini. Kita kena jemur di lapangan.”
Puji                  : “dia memang trouble maker, badannya saja besar, tapi cengeng.”
Andri               : “yang lebih apes ituaku, barusajamasukkelas, sudahkenamarahpak Dian, padahalakutidakikutan. Cobasajatadiakutetap di perpus, pastitidakikutandijemur.”
Pak Dian         : “Kepanasan? Sudah kapok belum?
Siswa               : “mendidihpak, kitasudah kapok pak.”
Pak Dian         : “ yasudah. Sekarang, semuakembalikekelas.Ingat, jangandiulangilagi.”
Siswa               : “yapak, kami berjanjitidakakanmengulanginyalagi.
1.      Deiksis Persona
Dalam percakapan diatas Deiksis yang digunakan adalah Deiksis Persona-Proksimal karena penutur menyebut dirinya dan mitra tuturnya dengan sebutan “kitasebagai orang pertama, seperti pada percakapan berikut:
Firman: “andai saja Doni tadi tidak teriak-teriak, pasti jadinya tidak akan begini. Kita kena jemur di lapangan.”
Kemudian dalam tuturan itu penutur juga menyebutkan “Doni” sebagai orang ketiga yang berarti tidak terlibat dalam percakapan sehingga termasuk dalam deiksis persona Distal (jauh) karena Doni tidak terlibat langsung dalam pembicaraan, seperti percakapan berikut:
Firman: “andai saja Doni tadi tidak teriak-teriak, pasti jadinya tidak akan
begini. Kita kena jemur di lapangan.”
Selain itu Penutur menyebut petutur dengan sebutan “Dia” (orang ketiga)yang berarti tidak terlibat dalam percakapan sehingga termasuk dalam deiksis persona Distal (jauh) karena “Dia” disini adalah Doni yang tidak terlibat langsung dalam percakapan, seperti percakapan berikut:
Puji                    : “dia memang trouble maker, badannya saja besar, tapi cengeng.”
Selain itu petutur menyebut dirinya dengan “Aku” sebagai orang pertama, yang termasuk dalam deiksis persona proksimal karena Andri Terlibat langsung dalam percakapan, selain itu secara psikologis kata “Aku” disini menunjukkan kedekatan atau keakraban antara penutur dan petutur.seperti yang terlihat pada percakapan berikut
Andri : “yang lebih apes itu aku, baru saja masuk kelas, sudah kena marah pak Dian, padahal aku tidak ikutan. Coba saja tadi aku tetap di perpus, pasti tidak ikutan dijemur.”
Petutur juga menyebutkanpetutur lainnya dengan sebutan “Pak” sebagai orang kedua dan secara fisik percakapan yang mereka lakukan dekat karenadilakukan dengan bertatap muka secara langsung (Deiksis Persona-Proksimal). Seperti yang terlihat pada percakapan berikut:
Siswa   : “mendidih pak, kita sudah kapok pak.”

2.      DeiksisTempat
Kata kelas dan perpus termasuk dalam Deiksis Tempat-Distal, karena jauh dari penutur. Maksudnya tempat tersebut tidak dijangkau oleh mitra tutur, mereka tidak berada di tempat itu.Sedangkan kata lapangan termasuk dalam Deiksis Proksimal (dekat), yaitu dimana penutur atau petutur dapat mengendalikan tempat tersebut. Seperti yang terlihat dalam percakapan berikut:
Firman            : “andai saja Doni tadi tidakt eriak-teriak, pasti jadinya tidakakan begini. Kita kena jemur di lapangan.”
Andri                 : “yang lebih apes ituaku, baru saja masuk kelas, sudah kena marah pak Dian, padahal aku tidak ikutan. Coba saja tadi aku tetap di perpus, pasti tidak ikutan dijemur.”

3.    DeiksisWaktu
Dari percakapan di atas terdapat kata “Andaimenunjukkan Deiksis Waktu Distal karena masih berbentuk pengandaian dan kata sekarang”  menunjukkan Deiksis Waktu-proksimal karena terjadi pada saat peristiwa itu berlangsung. Seperti yang terdapat pada potongan percakapan berikut:
Firman        : “andai saja Donita di tidakteriak-teriak, pasti jadinya tidak akan begini. Kita kena jemur di lapangan.”
Pak Dian    : “ yasudah. Sekarang, semua kembali ke kelas.Ingat, jangan diulangi lagi.”

4.      Deiksis Tata Bahasa

Dari percakapan diatas terlihat menggunakan deiksis tata bahasa proksimal menggunakan kalimat langsung. Karena percakapan ini dengan cara bertatap muka langsung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar